Jempanang Belok Sidan, Dusun Elok Dipandang Penuh Kesan - Beritabali.com

News

Jempanang Belok Sidan, Dusun Elok Dipandang Penuh Kesan

Minggu, 23 September 2018 | 06:00 WITA

Muliarta

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, BADUNG.
Beritabali.com, Badung. Dusun Jempanang, Desa Belok Sidan merupakan sebuah dusun dengan pemandanga hutan Bali Tengah yang sangat elok dipandang dan akan membawa kesan bagi setiap orang yang berkunjung. Dusun dengan bentangan kawasan hutan Puncak Antap Sai Bon kini telah berkembang menjadi kawasan ekowisata. Pemandangan alam yang elok di kelilingi pegunungan menjadikan daerah ini sebagai tempat yang bagus untuk foto selfie. 

Pilihan Redaksi

  • Sejarah Kelam G30S 1965 di Bali (14): Semua Laki-Laki Dibunuh, Merta Sari Jadi Desa Janda
  • I Nyoman Kaler, Maestro Tari dan Tabuh Pantang Hewan Berkaki Empat
  • Kopi Belok, Kopi Khas Dusun Jempanang Belok Sidan
  • Lestarianya hutan di sekitar Dusun Jempanang tak lepas dari peran masyarakat dalam melestarikan hutan. Melalui sebuah awig-awig atau aturan adat, masyarakat Dusun Jempanang menjaga kelestarian hutan. Salah satu tokoh Dusun Jempangan yang juga perintis agrowisata  di daerah tersebut, I Wayan Terima mengungkapkan bahwa awig-awig hutan mulai diterapkan sejak 5 tahun lalu.
    "Dengan awig-awig sekarang yang melanggar bisa kena denda mulai dari satu juta rupiah, bahkan sekarang berburu juga sudah dilarang di sekitar wilayah desa," ungkap Terima Minggu (16/9) lalu.
    Terima mengungkapkan sebelum adanya awig-awig pengawasan dilakukan oleh polisi hutan. Akibatnya pengawasan tidak efektif, karena jumlah personil yang terbatas dan kantornya berada di Denpasar. "Kalau sekarang kan ada pecalang yang melakukan pengawasan, belum lagi masyarakat juga ikut berpartisipasi. Masyarakat juga berpartisipasi ikut melestarikan dengan melakukan penanaman," ujar Terima.
    Jempanang selama ini identik dengan dusun penghasil kopi karena sebagian besar warga Jempanang mengandalkan penghidupan dari bertani kopi. Selain itu di Dusun Jempanang juga terdapat usaha pengolahan kopi yang dikelola melalui Koperasi Sumber Merta Buana. Sayangnya usaha produksi kopi masih terbatas, baik dari segi produksi maupun pemasaran.
    “Pemasarannya masih terbatas, karena keterbatasan SDM. Secara produksi juga belum bisa dilakukan secara kontinyu karena ketersediaan bahan baku. Kalau ada permintaan kita belum bisa menyediakan secara periodik,” papar Wayan Terima yang juga merupakan pengelola Koperasi Sumber Merta Buana.
    Sebagai daerah penghasil kopi, Dusun Jempanang ternyata memiliki tanaman kopi khas yang diberi nama  Kopi Belok. Kopi Belok termasuk didalam golongan kopi jenis robusta klon BP 234. Tanaman kopi jenis ini umumnya tumbuh di iklim tropis, termasuk di Dusun Jempanang.
    Salah satu petani kopi di Dusun Jempanang I Wayan Pingit menuturkan kopi Belok pertamakali ditemukan oleh warga Belok pada tahun 1957. Sejak tahun 1961 mulai di budidayakan oleh masyarakat jempanang dan menjadi kopi unggulan masa itu. Namun pada tahun 1975 budidaya kopi Belok mulai menurun akibat budidaya kopi arabika secara massal.
    “Masyarakat mulai melakukan budidaya kopi arabika karena memiliki harga jual relatif lebih tinggi daripada kopi Belok. Saat itu kopi Belok dibudidayakan  hanya untuk di komsumsi saja oleh masyarakat jempanang,” tutur pria  berusia 72 tahun tersebut.
    Kopi Belok memiliki kelebihan yaitu tahan terhadap serangan hama  cacing akar ( nematoda) serta tahan terhadap tanah yang kurang subur dan memiliki produktifitas pertahun mencapai  800-1200 kilogram per-hektar.”Kopi belok bisa di budidayakan di daerah mana saja,  tetapi produktivitas dan ketahan tidak akan sama seperti di Dusun Jempanang yang memang merupakan habitat asli kopi Belok” papar pemerhati kopi Belok I Ketut Jati.
    Ketua Subak Tegalan Dusun Jempanang I Wayan Widana mengakui untuk pengembangn kopi Belok di Dusun Jempanang masih relatif rendah karena terkendala harga jual yang rendah dibandikan kopi arabika. Apalagi kopi Belok belum menjadi komoditi unggulan di Dusun Jempanang karena kopi arabika masih menjadi unggulan di Dusun Jempanang.
    “Dan tanantangan  yang kami hadapi yaitu bagaimana mendongkrak harga kopi Belok dipasaran supaya menjadi kopi unggulan yang akan berdapak pada budidaya kopi Belok kedepanya,” kata Wayan Widana.
    Selain sebagai penghasil komoditi kopi, Dusun Jempanang juga memiliki potensi lainnya yaitu produksi gula aren. Sayangnya produksi gula aren hanya menjadi pekerjaan sampingan para petani di Jempanang. Apalagi pohon aren baru bisa disadap niranya saat pohon sudah berumur sekitar 10-20 tahun.
    "Harus menunggu 10-20 tahun agar pohon bisa disadap nirannya. Sekarang saya punya lebih dari 100 pohon tapi belum ada yang keluar batang bunganya," ujar Ketut Jaman, salah satu penyadap nira dan pembuat gula aren di Jempanang.
    Menurut pria berumur 45 tahun tersebut, hampir seluruh kepala keluarga di Dusun Jempanang memiliki pohon aren, namun hanya sebagian kecil yang memanfaatkan pohon aren untuk memproduksi gula aren. Begitu juga para penyadap nira lebih cenderung menjual nira segar atau yang biasa disebut tuak manis.
    "Menjual dalam bentuk tuak manis lebih untuk karena tidak perlu waktu untuk mengolah, sehingga bisa mengambil pekerjaan lain. Terus tidak perlu mencari kayu bakar, keuntungan juga tidak jauh beda klau dijual dalam bentuk gula aren," kata Jaman.
    Jaman menuturkan secara rata-rata untuk satu kilogram gula aren selama ini dihargai sebesar Rp. 25.000- Rp. 30.000. Permintaan akan kebutuhan gula aren juga tinggi, namun produksinya belum tersedia secara rutin karena keterbatasan produksi. Belum lagi jika ada masyarakat yang memiliki hajatan atau upacara maka kebutuhan akan gula aren juga meningkat.
    Salah satu konsumen gula aren, I Nyoman Jaya Kesuma mengakui bahwa gula aren Jempanang memiliki ciri khas berupa manis alami. Selain itu, gula aren juga berkhasiat untuk menambah stamina.
    "Selain itu gula aren juga berhasiat menambah stamina mencegah anemia, diabetes, sariawan dan bisa dijadikan bahan kecantikan alami. Jika rutin dikomsumsi untuk menabah stamina dan mengurangi resiko diabetes," ungkap I Nyoman Jaya Kesuma.
    Sebagai daerah ekowisata, warga Jempanang mulai bergeliat menjaga kawasan kebersihan, salah satunya dengan membentuk bank sampah. Namun pengelolaan bank sampah di Dusun Jempanang belum berjalan secara optimal.  Hal ini diakui oleh pengelola bank sampah Dusun Jempanang I Wayan Widana. 
    Menurut pria 2 orang anak ini,  belum optimalnya pengelolaan bank sampah Dusun Jempanang dikarenakan kisaran harga sampah masih rendah. 
    "Harga sampah plastik per kilogram dihargai seharga 200 rupiah," ujar Widana. 
    Widana mengungkapkan harga sampah yang rendah tersebut menyebabkan adanya persaingan harga dengan pemulung,  sehingga nasabah memilih menjual sebagian sampah plastiknya ke pemulung setempat. 
    "Nasabah hanya menabung plastik saja,  barang barang yang masih bagus di bawa ke pemulung," ujar Widana. 
    Bank sampah Dusun Jempanang telah berjalan selama  8 bulan terhitung dari bulan Januari hingga September 2018. Namun dalam 8  bulan tersebut bank sampah mengalami penghambatan selama 2 bulan dikarenakan masalah tempat bank sampah.  Sehingga tempat bank sampah dipindahkan di tempat lain yang masih di area Dusun Jempanang. Tepat tanggal 4 September dilakukan pembangunan ulang bank sampah. Kader yang menjadi pemilah sampah di Bank sampah Dusun Jempanang berjumlah 8 orang. 
    "Selama bank sampah berjalan sudah ada 45 nasabah," ujar Nyoman Runi selaku kader bank sampah.
    Made Bisma Asta salah satu nasabah dari bank sampah Jempanang mengaku memilih menabung sampahnya ke ba

    Pilihan Redaksi

  • Diakui Unesco, Generasi Muda Jangan Jauhi Joged
  • Presiden Jokowi Resmikan Garuda Wisnu Kencana, Patung Tertinggi Ketiga di Dunia
  • Wisata Kapal Phinisi, Sea Safari Cruises Tawarkan Paket Gathering Hingga Wedding
  • Harga Sampah Rendah, Pengelolaan Bank Sampah Dusun Jempanang Belum Optimal
  • nk sampah Jempanang untuk menabah penghasilan dan untuk mempermudah pembuangan sampah karena sebelum adanya bank sampah, pengolahan sampah dilakukan dengan cara dibakar. Sehingga bank sampah ini juga memberikan manfaat seperti pengurangan polusi udara dari pembakaran sampah tersebut.  
    Selain melakukan upaya pengelolaan sampah, warga Jempang juga mulai memanfaatkan limbah kotoran ternak sapid an babi untuk diolah menjadi biogas. Penerima manfaat biogas di Dusun Jempanang sampai tahun 2017 kini berjumlah 8 KK. Pemanfaatan biogas selain mampu mengurangi pencemaran akibat kotoran ternak juga mengurangi penggunaan kayu bakar. Digester 4 m3 yang dibuat mampu menampung 30 kg kotoran  dalam sehari dan gas yang dihasilkan bisa digunakan untuk memasak selama 4 jam. Pengisian kotoran ke digester dilakukan setiap 2 hari sekali sekaligus membersihkan kandang. [bbn/PPLH Bali/mul]

    Penulis : I Nengah Muliarta

    Editor : I Nengah Muliarta


    TAGS : Jempanang Belok Sidan Badung


    The Best Cargo Company in Bali | Air and Sea Shipping in Bali

    We are Your Experienced and Reliable Freight Forwarding Partner in Bali. Bali Cargo, Bali Freight Forwarder, Bali Shipping. Worldwide Cargo Logistics and Freight Forwarder in Bali, Air Freight Services, Sea Freight Services. Contact us Today 0811388874



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV