Perempuan Arab Saudi Kini Lebih Bebas Tanpa Harus Berkerudung Atau Kenakan Abaya? - Beritabali.com

News

Perempuan Arab Saudi Kini Lebih Bebas Tanpa Harus Berkerudung Atau Kenakan Abaya?

Senin, 25 November 2019 | 12:15 WITA

bbn/afp/liputan6.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DUNIA.
Perempuan Saudi telah mengenakan kain serba hitam yang merupakan pakaian adat abaya  perempuan Arab Saudi sejak sebelum kerajaan itu disatukan pada 1932, sebuah tradisi yang diimpor dari Turki pada masa pemerintahan Kekaisaran Ottoman.

Pilihan Redaksi

  • Pemprov Komitmen Bantu Warga Hindu di Luar Bali
  • Upacara "Menjadi Hindu" Jangan Dibebani Upacara Lainnya
  • WHF 2019: Delegasi Indonesia Beri Masukan Atasi Permasalahan Hindu di Berbagai Negara
  • Seperti dikutip liputan6.com pada 6 Oktober 2019, mereka telah lama beradaptasi untuk gaya hidup mereka sendiri, kata Khadija Nader, seorang dosen di Universitas Umm Al Qura di Mekah yang telah menulis tentang sejarah pakaian tradisional Saudi.
    Pada awal 2000-an, perempuan Saudi mulai mengenakan abaya dengan warna netral seperti krem. Pada 2010, abaya biru, merah anggur, dan hijau muncul, dengan potongan yang lebih ramping (slim-fit) dan dihias dengan ikat pinggang yang semakin diterima secara sosial.
    Momen titik balik datang pada 2016, ketika Raja Salman mempreteli kewenangan polisi agama dari kekuatan penangkapan, yang secara efektif menghilangkan 'momok' menakutkan dari lembaga yang kerap menegakkan norma berpakaian bagi masyarakat Saudi.
    Hampir segera, perempuan menjadi lebih nyaman mengenakan jilbab mereka dengan longgar atau tidak sama sekali, sementara yang lain mulai bereksperimen dengan jaket, kimono dan abaya yang menunjukkan pergelangan kaki dan betis.
    Terlebih ketika para perempuan Saudi mengalami pemberdayaan (empowered) Pangeran Bin Salman mengatakan pada 2018 bahwa abaya tidak wajib di bawah hukum Saudi atau Islam. Dia mengatakan perempuan harus "mengenakan pakaian yang sopan dan terhormat," sebagaimana laki-laki juga diwajibkan akan hal itu.
    Pelunturan Tradisi?
    Abaya tradisional tetap menjadi pilar norma budaya bagi perempuan. Di sebuah festival musim panas di Taif, sebuah kota di puncak gunung yang konservatif yang terletak 100 mil jauhnya dari Jeddah, hampir semua perempuan mengenakan abaya tradisional, banyak di antaranya dengan penutup wajah yang disebut niqab.
    "Saya tidak percaya mengenakan abaya berwarna adalah hal yang benar. Mereka mencolok dan tidak pantas," kata Maram Mohammad, 27, yang menghadiri festival bersama keluarganya. "Abaya hitam dengan penutup kepala (niqab) dan wajahnya (burqa) mewakili identitas Saudi, dan sangat menyedihkan bahwa kami kehilangan itu."
    Marka antara abaya kreatif dan yang tidak senonoh tetap kabur, tetapi pemerintah melonggarkan aturan berpakaiannya yang ketat dan menjauh dari abaya tradisional.
    Setelah mengumumkan akan menawarkan visa kepada wisatawan untuk pertama kalinya, pemerintah mengeluarkan pedoman kesopanan publik baru yang mengatakan bahwa "perempuan bebas memilih pakaian yang sopan."
    Definisi kesopanan publik tetap terbuka untuk interpretasi pribadi otoritas lokal. Beberapa menerapkan secara longgar, namun yang ketat, masih ada.
    Baru-baru ini, seorang reporter televisi menghadapi reaksi di media sosial dan berujung pada investigasi pemerintah daerah di Saudi ketika dia mengenakan abaya putih yang terbuka di tengahnya, memperlihatkan celana jins ketat. Dia melarikan diri dari negara itu, menurut laporan media setempat.
    Para penguasa kerajaan yang sangat konservatif ini telah memenjarakan dan menyiksa para aktivis hak-hak perempuan, The Wall Street Journal melaporkan, mengutip keluarga para tahanan. Tetapi pemerintah Saudi secara terbuka mendukung apa yang disebutnya inisiatif pemberdayaan perempuan, dan baru-baru ini mengizinkan perempuan dewasa untuk bepergian dengan bebas tanpa izin dari wali laki-laki.
    Beberapa merek abaya melayani semakin banyak perempuan di dunia kerja Saudi. Tingkat partisipasi tenaga kerja kaum Hawa naik hampir 9% pada 2018, kata pemerintah.
    Orange Blossom, merek di Jeddah dan Riyadh, mendesain abaya modern yang menampilkan kerah, kancing, saku, dan lebih pendek. Zeina Adra, pendiri dan perancang merek, mengatakan penjualan naik 30% tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, dengan abaya modern sepanjang pergelangan kaki dan betis mewakili 85% dari total penjualan.
    Manahel Otaibi masih mengenakan abaya untuk bekerja, dan meskipun beberapa perempuan telah bergabung dengan mereka dalam berbusana abaya modern, ia yakin bahwa pada akhirnya, pemerintah perlu menghapus ambiguitas untuk apa yang dia sebut sebagai "interpretasi pribadi."
    "Jika peraturan dikeluarkan tentang hal itu, itu akan membuat segalanya lebih mudah," katanya.
    Namun demikian, tidak ada yang berencana untuk kembali mengenakan abaya.
    "Yang saya tahu adalah bahwa saya berhasil menunjukkan kebenaran, bahwa tidak ada hukum yang mengkriminalisasikan seseorang karena mengenakan sesuatu selama pakaian itu sopan," kata Otaibi.
    "Pada akhirnya aku tidak melakukan kesalahan," imbuhnya

    Penulis : Media Network

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Perempuan Arab Saudi Bebas Tanpa Abaya Kerudung


    The Best Cargo Company in Bali - ADHI DARMA CARGO

    ADHI DARMA CARGO is an International Freight Forwarder  that established in 1995. Adhi Darma Cargo specialized in International Air Freight and Sea Freight Forwarder and Logistics Transportation Solutions with it’s office and warehouse located  in Ubud - Bali, Indonesia. Contact us Today : 082339597441



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV