Pembentukan Satuan Khusus Seluruh Pengamanan di Bali Disepakati - Beritabali.com

Hukrim

Pembentukan Satuan Khusus Seluruh Pengamanan di Bali Disepakati

Jumat, 06 Desember 2019 | 18:00 WITA

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Diskusi penanggulangan terorisme yang digelar Focus Group Discussion (FGD) berlangsung di Room Yudistira Hotel Grand Santhi di Jalan Patih Jelantik Denpasar, belum lama ini.

Pilihan Redaksi

  • KPU Karangasem Diminta Jangan Ragu Jika Butuh Pengamanan
  • Dalam diskusi tersebut tercetus kesepakatan membentuk satuan khusus seluruh pengamanan di Bali. Dalam kegiatan tersebut menghadirkan Narasumber yang berkompoten. Yakni Direktur Dit Intelkam Polda Bali Kombes Pol Wahyu Sutikno, I Gusti Agung Ngurah Sudarsana, S.H., M.H., I Nyoman Lastra, Spd., M.Ag. selaku Ka Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, M. Saifuddin Umar LC alias Abu Fida selaku Tokoh Agama, AKBP I Made Witaya, S.H. selaku Kasubdit I Dit Reskrimum Polda Bali, Dr. Putu Jaya Suartama, M.Si. selaku Ketua Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme Provinsi Bali.   Kegiatan Tersebut juga dihadiri oleh ; FKPD Provinsi Bali, Perwakilan Binda Bali,  Perwakilan Kanwil Kumham Provinsi Bali, FKUB Provinsi Bali, MDA Provinsi Bali, Ketua Pecalang Prov. Bali, ASITA Prov Bali, FKPD Kab/Kota SARBAGITA, perwakilan Rektor/Dekan/Dosen Universitas/Politeknik diwilayah Bali, Perwakilan Mahasiswa/BEM Se Bali, Perwakilan Kepala Sekolah/Guru, Perwakilan Pelajar/OSIS,  Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Perwakilan Keagamaan Prov Bali, Ormas keagamaan, PHRI Prov. Bali, Pimpinan Ponpes, Aktivis/LSM, Perawakilan Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas Denpasar, Takmir masjid, Personel Dit Intelkam. 
    Direktur Intelkam Kombes Pol Wahyu Suyitno dalam sambutannya mengucapkan terimakasih atas kehadiran para narasumber dan peserta FGD. Dijelaskannya, Bali sebagai destinasi wisata dunia banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun asing. Bali sendiri sudah pernah menjadi sasaran aksi terorisme yaitu Bom Bali 1 dan Bom Bali 2 yang berimbas anjloknya perekonomian wisata Bali.
    Hal ini tidak terlepas dari adanya paham yang menganggap bahwa dirinya paling benar sehingga melakukan aksi terorisme dan menganggap hal tersebut merupakan syariat Islam.  "Masyarakat Bali adalah masyarakat yang welcome dengan tidak memandang bagaimana para pendatang tersebut. Kami berharap agar perwakilan yang hadir disini dapat menyampaikan output FGD kepada rekan-rekannya untuk mencegah aksi terorisme," tegas Kombes Wahyu. 
    Diakuinya, Polda Bali belum sanggup meminamalisir potensi kerawanan aksi  terorisme di seluruh wilayah Bali, terlebih para pelaku tinggal di daerah terpencel. 
    "Mari bersama-sama menjaga situasi kamtibmas di wilayah Bali. Para pelaku terorisme tinggal pada tempat-tempat yang terpencil sehingga sulit terlacak dan hal tersebut memerlukan bantuan dari seluruh elemen masyarakat," terangnya. 
    Sementara menurut Kepala Kesbangpol Provinsi Bali, paham radikal adalah paham orang yang tidak beragama. Dimana orang-orang tersebut mengambil ayat-ayat untuk melakukan pembenaran contohnya kata "Hijrah" yang digunakan untuk mencari pembenaran terhadap aksi radikal yang dilakukan. 
    Ditegaskannya, Pancasila adalah ideologi yang harus disepakati bersama. Pancasila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa telah disepakati oleh seluruh masyarakat Indonesia dan bukan menggunakan piagam Jakarta. 
    "Kami akan membuat sebuah program untuk masyakat Bali yang bertujuan untuk pelaporan Kamtibmas yang terjadi di wilayah Bali. Bali telah sejak dulu melaksanakan toleransi," tuturnya.
    Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali Nyoman Lastra, Spd., M.Ag., juga menyampaikan, berdasarkan Hassanuddin Ali Founder and CEO Alavara Research Center khusus dari kalangan guru dan pelajar di wilayah Indonesia. Sebanyak 50% telah memiliki opini intoleran, 4 % memiliki opini radikal, 37,77% guru memiliki sifat intoleran dan 46% memiliki sifat radikal.
    "Agama tidak pernah mengajarkan untuk saling menyakiti namun sekarang kenapa sekarang saling menyakiti. Agama memiliki esensi yang sangat tinggi dalam bangsa Indonesia. Dimana 100% orang Indonesia beragama dan karena agama seseorang berani mengorbankan nyawanya. Tidak ada Agama yang mengajarkan untuk saling menyakiti maupun saling membunuh," tegasnya. 
    Sedangkan Ketua FKPT Provinsi Bali Dr. Putu Jaya Suartama, M.Si., mengatakan pihaknya telah menciptakan sebuah program satu komando untuk mensinergitaskan seluruh unsur pengamanan yang ada di wilayah Bali. Agar dapat 1 komando perintah untuk menjaga situasi kamtibmas. 
    "Bali terlalu welcome sehingga para pelaku pencurian dari warga negara asing khususnya Rusia dapat melakukan aksinya di Bali. Saya berharap tidak ada lagi bom bali 3, cukup bom bali 1 dan 2 agar tidak berkelanjutan," tegasnya.  

    Penulis : Surya Kelana

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Satuan Khusus Pengamanan Bali Seminar FGD


    The Best Cargo Company in Bali | Air and Sea Shipping in Bali

    We are Your Experienced and Reliable Freight Forwarding Partner in Bali. Bali Cargo, Bali Freight Forwarder, Bali Shipping. Worldwide Cargo Logistics and Freight Forwarder in Bali, Air Freight Services, Sea Freight Services. Contact us Today 0811388874



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV