Pecalang Covid - Beritabali.com

Matan Ai

Pecalang Covid

Minggu, 28 Juni 2020 | 12:15 WITA

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Salah satu perangkat di tingkat komunitas (desa adat) dari upaya penanggulangan pandemi Covid-19 di Bali adalah satuan pecalang.  Hal ini tentu saja mengacu kepada Keputusan Bersama Gubernur Bali dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali Nomor: 472/1571/PPDA/DPMA dan Nomor: 05/SK/MDA-Prov bali/III/2020 tentang Pembentukan Satuan Tugas Gotong Royong Pencegahan Covid-19 Berbasis Desa Adat di Bali. Desa adat menggeliat melakukan pengamanan terhadap lingkungannya. Barisan pengamanan pecalang pun turun tangan.  

Pilihan Redaksi

  • Pemerintah yang (Harus) Berubah
  • Demo Papua di Renon Dibubarkan Pecalang
  • Normal Baru, Kewaspadaan Baru
  • Pecalang pada masa pandemi ini kita lihat berjaga-jaga di posko gotong-royong yang ada di setiap banjar. Bahkan, sejak diberlakukannya PKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat) di Kota Denpasar, pecalang bersama dengan Hansip dan tenaga kesehatan berjaga-jaga di wilayah perbatasan Kota Denpasar. Tugas mereka adalah memerika manusia dan menangkal virus. Tidak jarang, para pecalang ini, ditemani dengan Hansip, juga akan melakukan sidak (pemerikasaan) ke lokasi-lokasi yang dianggap “rawan”. Pecalang juga akan “memantau” tempat-tempat kos dan wilayah tempat tinggal para migran. 
    Kesiapsiagaan satuan pecalang menggambarkan kesiapan komunitas dalam merespon pandemi. Terlepas dari kebijakan dan pembentukan Satgas Gotong Royong, inisiatif komunitas dalam melindungi diri dan lingkungannya menjadi catatan penting selama masa pandemi. Pecalang bersama dengan prajuru (pengurus) adat dan perangkat desa dinas, menjadi elemen penting penggulangan di tingkat komunitas. 
    Tugas pecalang terutama juga adalah mengantisipasi penyebaran virus melalui transmisi local (penularan lokal) di pasar tradisional. Seperti yang dilakukan oleh pecalang Desa Adat Bitera yang melakukan penjagaan di pasar tradisional sejak pukul 04.00 wita. “Kami terdiri dari lima banjar secara bergiliran berjaga mulai pukul 04.00 sampai pukul 10.00 Wita. Kemudian dilanjutkan pukul 16,00 hingga 01.00 Wita untuk melakukan ronda pengecekan di wilayah Bitera,” ujar Ketua Pecalang Desa Adat Bitera, Dewa Gede Karang (Tribun Bali, 18 Juni 2020).    
    Pecalang Covid  
    Saat masa pandemi ini, sering dikenal sebutan pecalang covid. Istilah ini mengacu kepada tugas satuan pecalang selama masa pandemic ini. Tugasnya adalah menjaga arus pergerakan manusia yang menjadi potensi penyebaran virus ini. Kemunculan pecalang pada masa virus Covid-19 juga menjadi alas an terkuat istilah pecalang Covid.  Namun jauh sebelum istilah pecalang covid muncul, pecalang menjadi fenomena penting dalam wacana politik kebudayaan Bali. 
    Pecalang, ada yang yang menganggap sudah menjadi bagian dari kebudayaan Bali sejak zaman kerajaan dengan nama yang beragam, seperti sikep, dolop atau sambangan. Pada tahun 1965, barisan pecalang ini menyerupai satuan tameng yang melakukan pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh PKI (Partai Komunis Indonesia). Ada juga yang menyebutkan bahwa pecalang dibentuk untuk menjaga parker dan mengatur lalu lintas pada saat mulai berlangsungnya Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 1970-an. 
    Namun yang tidak terbantahkan adalah kemunculan pecalang sebagai 'rising star' dalam memberikan rasa aman di Bali pasca reformasi 1998. Momennya adalah berlangsungnya Kongres I Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Sanur, Denpasar tahun 1999. Saat itu, selain satgas partai, PDIP mengadopsi barian pecalang untuk mengatur para simpatisan partai yang datang ke Bali. 
    Gairah kebebasan membuat sampai ke banjar-banjar, seruan dan ajakan menjadi pecalang, pengaman tradisional Bali, disambut hangat anak muda Bali waktu itu. Dalam bayangan mereka, pecalang PDIP keren dan nampak gagah mengatur orang menyamai tugas polisi. Kata seorang teman berseloroh, saat itu pecalang PDIP adalah “polisi bayangan” atau bahkan melebihi kekuasaan polisi saat itu dan mungkin sampai saat ini.
    Naik daunnya pecalang pasca reformasi membawa wacana penting dalam politik kebudayaan berikutnya. Pecalang menjadi jaminan keamanan Bali. Serta merta setelah melihat keberhasilan pecalang dalam mengamankan kongres PDIP I, Bali seperti keranjingan membuat satuan-satuan pecalang di masing-masing desa adat di Bali. Lebih daripada itu, pecalang bahkan dibuatkan posko, dibelikan peralatan lengkap dalam tugas, bahkan disediakan mobil patroli oleh desa. 
    Pecalang juga bertugas melakukan patroli keamanan desa. Dalam wilayah kekuasaan desa adat, toko-toko diwajibkan menyumbang untuk dana jaga baya (uang keamanan) untuk operasi satuan pengamanan tradisional ini. Pecalangpun menjadi tenaga keamanan dalam razia penduduk pendatang, sweeping, bahkan untuk menjaga konser-konser musik.    Pecalang-pun bertransformasi. Dari pecalang politik yang lekat dengan PDIP, kini pecalang menjadi satuan pengamanan (beridentitas) adat dan budaya yang bisa digunakan oleh berbagai pihak dan kepentingan. 
    Bagi desa adat, pecalang sejatinya adalah satuan pengamanan pada saat ritual-ritual keagaaam di desa. Namun, tidak hanya itu. Pecalang oleh desa adat juga dijadikan sebagai tenaga keamanan, memungut iuran penduduk, dan merazia penduduk pendatang. Tugas dan fungsi pecalang kini telah menjadi kekuatan yang sangat besar dan bisa digunakan sebagai jasa pengamanan. Kelebihan pecalang adalah image Bali yang sangat kuat diemban dan juga secara sadar dimainkan oleh pecalang. 
    Pecalang sering dikritik berlaku arogan dan seenaknya untuk menutup jalan. Pecalang juga sering memantik konflik dengan peringai mereka yang kasar dan “sok kuasa”. Ini dirasakan sekali saat pecalang melakukan pengamanan untuk upacara adat. Bukannya untuk mengamankan, bahkan menimbulkan masalah untuk diamankan. Pecalang sebagai satuan pengamanan tradisional memang tidak siap dan memang tidak dilatih untuk melakukan pengamanan yang biasa dilakukan oleh polisi. 
    Kesan pecalang sebagai penjual jasa keamanan terlihat jelas dari kepentingan desa adat untuk memungut biaya penduduk dinas (pendatang). Ini juga dilemma yang dihadapi desa adat. Mereka jelas berorientasi untuk materi untuk menghidupi kegiatan-kegiatan adat dan budaya di desa. Sementara mereka juga harus berlaku keras dengan merazia penduduk yang membludak dating ke daerah mereka. 
    Pecalang menjadi senjata utama untuk melakukan razia tersebut dibantu oleh Tim Pendataan Penduduk di masing-masing desa. Aksi mereka inilah yang banyak dikeluhkan oleh penduduk pendatang. Saat malam-malam, mengedor rumah untuk memeriksa KTP dan sikap keras dan arogannya.
    Pecalang juga kata sakti untuk melakukan pengamanan di daerah-daerah “basah”, rawan konflik dan pertarungan preman. Daerah-daerah seperti pasar, terminal, kafe-kafe juga telah mempekerjakan pecalang disamping Satpam (Satuan Pengamanan). Saya melihat dengan jelas di sebuah rumah makan siap saji di Denpasar, pecalang bersanding dengan Satpam untuk mengatur kendaraan yang parkir penuh di rumah makan tersebut. 
    Begitu juga dengan pasar dan terminal. Para preman biasanya dengan mudah mengubah dirinya menjadi pecalang dengan simbol adat untuk menguasai daerah kekuasaan mereka dari preman lainnya.
    Akhirnya, pecalang menjadi komoditas politik, sebuah produk yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan apapun. Produk itu sangat berkualitas dan berwibawa, karena dalam produk tersebut sterdapat kata sakti adat dan budaya dari simbol-simbol busanya. Dengan produk yang tidak dapat ditandingi “senjatanya” itu, memudahkan si pemilik untuk menggunakannya dalam kepentingan apapun. 
    Pecalang sebagai sebuah wacana kebudayaan telah masuk dalam berbagai kontestasi dan konteks dilemma kebudayaan Bali kini. Wacana tentang pecalang adalah wacana tentang gugatan terhadap kebudayaan Bali yang terus menerus akan terjadi. Pecalang mencerminkan bagaimana kebudayaan Bali harus berhadapan dengan berbagai relasi kepentingan politik, ekonomi dan sudah pasti kekuasaan. 
    Kini, kita menyaksikan bagaimana pecalang covid untuk “menjaga manusia dan virus”. Tidak segan pecalang akan “membina” (baca: menghukum dengan push up) masyarakat yang tidak memakai masker atau penduduk pendatang yang dicurigai menyebarkan virus.  
    Penulis
    I Ngurah Suryawan
    Antropolog dan Dosen FISIP Universitas Warmadewa  Peneliti di Warmadewa Research Centre (WaRC) 

    Penulis : Opini

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Pecalang Pandemi Covid-19


    The Best Cargo Company in Bali - ADHI DARMA CARGO

    ADHI DARMA CARGO is an International Freight Forwarder  that established in 1995. Adhi Darma Cargo specialized in International Air Freight and Sea Freight Forwarder and Logistics  Transportation Solutions with it’s office and warehouse located  in Ubud - Bali, Indonesia. Call/WA : +6282339597441



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV