Bali Krisis Tenaga Fisika Medis - Beritabali.com

Akademika

Bali Krisis Tenaga Fisika Medis

Minggu, 03 Mei 2020 | 16:30 WITA

beritabali/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Bali saat ini mengalami krisis tenaga fisika medis karena jumlah fisikawan medis masih sangat terbatas. 

Pilihan Redaksi

  • Dosen Fisika Unud Gunakan Metode KB Tikus untuk Pengendalian Hama
  • Rapid Test Terbatas, Ini Usulan Ahli Epidemiologi Unud Tangani Covid-19 di Bali
  • Temukan Kombinasi "Mahluk Halus" Pengurai Jerami Padi, Ketua AMSI Bali Raih Gelar Doktor
  • Berdasarkan data Aliansi Institusi Pendidikan Fisika Medik Indonesia (AIPFMI) jumlah tenaga kesehatan yang berkualifikasi fisikawan medis di Indonesia baru mencapai 260 orang dan untuk daerah Bali Nusra hanya 15 orang. Sedangkan jumlah rumah sakit di Indonesia sekitar 3 ribu rumah sakit dan khusus di Bali Nusra jumlahnya mencapai 155 rumah sakit.
     
    Fisikawan Medis diakui sebagai tenaga kesehatan berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI No. 048/MENKES/SK/I/2007. Dengan pengakuan tersebut menyebabkan hampir semua rumah sakit kesulitan mendapatkan tenaga yang berkompotensi Fisika Medis.
     
    “Calon mahasiswa cenderung menghindari untuk mengambil jurusan fisika karena dipandang sangat sulit. Padahal kebutuhan tenaga fisika, khususnya fisika medis cukup tinggi. Kondisi ini yang menyebabkan kita mengalami krisis fisikawan medis,” kata Kordinator konsentrasi Fisika Medis, Program Studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Udayana, Dr. I Gusti Ngurah Sutapa saat dikonfirmasi di Denpasar pada Minggu (3/5).
    Penemu metode KB untuk tikus sawah dengan memanfaatkan radiasi gamma Co-60 ini mengakui bahwa untuk memenuhi kebutuhan tenaga fisika medis, Program Studi Fisika-Unud kini telah mebuka pendidikan S1 untuk konsentrasi fisika medis. Pembukaan konsentrasi fisika medis berdasarkan  keputusan Aliansi Institusi Pendidikan Fisika Medik Indonesia (AIPFMI). 
    Langkah ini menjadikan Unud sebagai satu-satunya universitas yang memiliki konsentrasi fisika medis di wilayah Timur Indonesia.
    “Dengan di bukanya Konsentrasi Fisika Medis semoga segera dapat menjawab atas kebutuhan Tenaga Kesehatan Fisikawan Medis di rumah sakit di Indonesia” ujar suami dari Komang Sugiartini.  
    Pria kelahiran Gianyar, 19 Juli 1967 menyampaikan bahwa fisikawan medis memiliki tugas pokok dan fungsi melakukan pelayanan medis yang meliputi  pelayanan fisika medik. Selain itu juga keselamatan radiasi, radiodiagnostik dan pencitraan medik, radioterapi, kedokteran Nuklir, pembinaan teknis, dan monitoring dan evaluasi pelayanan fisika medik.
     
    Fisika Medis (S1) dapat melanjutkan ke Profesi Fisika Medis selama 2 Semester dan lebih lanjut ke jenjang S2 Fisika Medis bahkan sampai ke Spesialis. Dimana Spesialis yang dapat ditempuh ada tiga yaitu Spesialis Radiodiagnostik (Sp. RDI), Spesialis Radioterapi (Sp RT) dan Spesialis Kedokteran Nuklir (Sp KN).

    Penulis : I Nengah Muliarta

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Krisis Fisikawan Medis


    Tetap Produktif di Rumah dengan Biznet

    Tetap Produktif di Rumah dengan Biznet. Promo Instalasi hanya Rp. 100.000. Kontak : 082236906863, 085738119233



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV