Pecalang "Ngayah", Pecalang Gagah - Beritabali.com

Matan Ai

Pecalang "Ngayah", Pecalang Gagah

Minggu, 24 Mei 2020 | 10:05 WITA

beritabali/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Penanganan pandemi di Provinsi Bali mendapatkan pujian dari Presiden Jokowi. Bali dianggap berhasil menangani wabah tanpa perlu menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Pujian itu disampaikan Jokowi saat rapat terbatas 12 Mei 20020. 

Pilihan Redaksi

  • Belog (Polos) Ajum di Masa Pandemi
  • Kehadiran Negara dan Ancaman Pengawasan
  •  
    Hampir seluruh media cetak dan daring di Bali seragam memberitakan itu. Beberapa kawan di grup Wathsapp berkomentar memuji, “Bali hebat bro. Kearifan lokal mengakar kuat. Sampai sukses lawan Corona. Dipuji Pak De tuh,” tulis seorang kawan di pesisir Jakarta. Belum selesai pujian tersebut, Bali menyatakan dirinya bersiap menjadi daerah yang terbebas dari pandemi Covid-19
     
    Tidak beberapa lama, pemerintah Provinsi Bali membuat kaget dengan keputusan untuk memasuki masa new normal (keadaan normal baru). Saat beberapa daerah transmisi lokal masih berlangsung, Satgas Covid-19 Provinsi Bali memutuskan untuk melonggarkan aktivitas warganya dan membuka kembali arus perpindahan manusia. Turis domestik diundang datang agar pariwisata kembali berdenyut. Pemerintah mempersilakan masyarakat beraktivitas di luar rumah sambil tetap memperhatikan protokol penanganan pandemi. “Produktif dan aman Covid-19” begitu semboyannya.  
     
    Di tengah ketidakpastian, ketidakjelasan, serta samar-samarnya perkembangan penanganan wabah ini di Bali, pemerintah berspekulasi dengan berbagai kebijakan. Seluruh kebijakan tersebut sama sekali tidak memperhitungkan kondisi masyarakat di akar rumput. Menghimbau masyarakat beraktivitas di tengah ancaman pandemi, sementara tanggung jawab negara dalam penanganannya tidak tentu arah. 
    Arus migrasi manusia akan semakin tinggi. Resiko penularan virus akan semakin tinggi pula. Transmisi lokal yang belum diselesaikan hingga kini akan ditambah lagi dengan potensi kasus baru yang kemungkinan muncul dari kebijakan ini. 
    Masyarakat di akar rumputlah yang sebenarnya selalu menjadi korban. Saat Jokowi memuji penanganan pandemi di Bali, pahlawannya adalah masyarakat kecil, yang dijadikan pion-pion untuk bertarung di garis depan. Selain tenaga medis dan kesehatan, peranan masyarakat akar rumput di banjar dan desa-desa adat di Bali sangatlah besar. Resiko mereka terpapar virus sangatlah tinggi.
    Pecalang Ngayah
    Barisan pecalang di banjar dan desa-desa adat di Bali salah satunya. Mereka inilah yang menjadi bagian dari Satgas Gotong Royong Covid-19 di tapak. Gubernur Koster pada 16 Maret 2020 membentuk Satgas Gotong Royong Desa Adat se-Bali. Keputusan ini dibuat bersama antara Pemprov Bali, Majelis Desa Adat Propinsi Bali, dan PHDI Bali. Satgas Gotong Royong ini mendapatkan dana dari dana desa adat yang diberikan kepada desa adat masing-masing sebesar Rp. 300 juta. Dana desa adat inilah yang digunakan untuk operasional Satgas. 
     
    Pecalang ngayah untuk menjaga lingkungannya dari serangan wabah. Pecalang adalah bagian dari masyarakat sipil di desa adat yang dengan inisiatif dan kepeduliannya sendiri menjaga desanya dari penyebaran pandemi. Meski bergabung dalam Satgas Gotong Royong, kewenangan pecalang berada di bawah desa adat. Celakanya, pecalang dan Satgas ini tidak memiliki pedoman kesehatan dan prosedur kerja saat menjalankan tugas penanganan wabah ini. Posisinya sebenarnya sangat riskan terpapar. 
     
    Pecalang dielu-elukan kemunculan beriringan dengan suka cita Reformasi 1998. Saya masih ingat betul begitu bergairahnya anak-anak muda Bali menjadi Satgas (Satuan Tugas) dan pecalangnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Saat itulah Kongres PDIP I di kawasan Sanur tahun 1999. Saya menyaksikan bagaimana kemeriahan menyambut kongres ini sampai ke banjar-banjar. Ajakan menjadi pecalang yang akan mengamankan kongres bersliweran. Menjadi pecalang dan satgas nampak begitu gagah ketika itu. 
     
    Saya kira, pada momen inilah titik balik kehadiran pecalang sebagai representasi tradisionalisasi kebudayaan Bali. Pasca kongres pertama PDIP itu, pecalang naik daun. Pecalang menjadi jaminan keamanan Bali. Serta merta setelah melihat keberhasilan pecalang dalam mengamankan kongres PDIP I, Bali seperti keranjingan membuat satuan-satuan pecalang di masing-masing desa adat di Bali. 
     
    Lebih daripada itu, pecalang bahkan dibuatkan posko, dibelikan peralatan lengkap dalam tugas, bahkan disediakan mobil patroli oleh desa. Pecalang juga bertugas melakukan patroli keamanan desa. Pecalang juga menjadi tenaga keamanan dalam razia penduduk pendatang dan sweeping pasca Bom Bali 2002 dan 2005, bahkan untuk menjaga konser-konser musik. Pecalang siap diberdayakan dalam berbagai bidang.   
     
    Pada masa pandemi ini, pecalang kembali menjadi garda terdepan. Jika sebelumnya partai politik yang memunculkannya, kini negara merangkulnya untuk kepentingan menjaga masyarakat Bali dari virus. Begitu lenturnya posisi pecalang, sehingga aspek fungsionalnya dimanfaatkan oleh berbagai pihak dengan beragam kepentingan.   
     
    Kesiagaan pecalang ini berkait erat dengan wacana kebudayaan Bali yang selalu membayangkan bahwa musibah dan kekacuan berasal dari luar. Opisisi inilah yang memandang bahwa para ‘pendatang’ dari luar Bali disangka sebagai sumber kekacauan, sedangkan orang Bali diposisikan sebagai penjaga ketertiban dan pemelihara tradisi. 
     
    Berdasarkan pandangan ini, “Bali” dibayangkan sebagai sebuah entitas dengan batas yang jelas, yang ada pada suatu ruang tertentu (Pulau Bali), terkait dengan bahasa tertentu (Bahasa Bali), cara hidup tertentu (adat Bali), dan agama tertentu (agama Hindu). Wacana ancaman dan kesiagaan inilah yang direpresentasikan oleh kehadiran pecalang (Santikarma, 2004: 123-124).     
     
    Pecalang pada masa pandemi ini adalah menjaga arus migrasi manusia. Merekalah yang bertarung di tapak. Apakah pecalang yang bertugas di tapak ini dilengkapi dengan protokol kesehatan agar mereka aman bekerja? Meski pecalang ngayah nindhin wilayahnya, negara perlu memperhatikan aspek keselamatan dalam mereka bekerja. 
    Jangan hanya menjadikan mereka garda terdepan melawan pandemi, tetapi tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Meski tampak gagah dan ngayah demi menjaga Bali, “diberdayakan” dengan berbagai kepentingan, pecalang juga manusia yang patut diperlakukan layaknya manusia.       
    I Ngurah Suryawan Antropolog dan Dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Warmadewa

    Penulis : Opini

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Pecalang Pandemi Covid-19


    Bali Tour Company | Bali Day Tours Packages | Bali Tours Activities

    Best online Bali Tour Company Service for your holiday in Bali Islands by offer special Bali Day Tours Packages, Bali Activities Tour with Professional Bali Tours. Contact us Today 082340081861



    News Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending News

    Berita Bali TV