Informasi

Belajar Tatap Muka Harus Penuhi Daftar Periksa

Rabu, 25 November 2020 | 18:10 WITA
Belajar Tatap Muka Harus Penuhi Daftar Periksa

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, BULELENG.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng Made Astika, menyatakan secara umum sudah mempersiapkan pembelajaran tatap muka sejak jauh hari sebelumnya.
Dua hal yang tidak boleh dibuka yakni kantin dan ekstrakurikuler sekolah. Ini sesuai dengan instruksi dari surat keputusan bersama empat menteri, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Kesehatan (Menkes), Menteri Agama (Menag), serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).
Satuan pendidikan sudah siap dengan sejumlah persyaratan yang ditentukan untuk pembelajaran tatap muka. Yakni kesiapan daftar periksa sesuai dengan protokol kesehatan termasuk meminta surat persetujuan dari orang tua siswa.
Daftar periksa yang semuanya harus dipenuhi oleh sekolah agar bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Pertama,  ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan, seperti toilet bersih dan layak adanya sarana cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer disinfektan.
Kedua, mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan. Ketiga, kesiapan menerapkan wajib masker. Keempat, memiliki thermogun.
Kelima, memiliki pemetaan warga satuan pendidikan yang memiliki komorbid tidak terkontrol, tidak memiliki akses terhadap transportasi yang aman, memiliki riwayat perjalanan dari daerah dengan tingkat risiko Covid-19 yang tinggi atau riwayat kontak dengan orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan belum menyelesaikan isolasi mandiri.
Keenam, mendapatkan persetujuan komite sekolah atau perwakilan orangtua atau wali.
“Misalnya, kalau jumlah siswanya banyak, tempat cuci tangan kan harus banyak juga. Paling tidak satu wastafel itu bisa untuk kapasitas 20-30 orang siswa. Biar tidak berkerumun,” jelas Made Astika, Rabu 25 November 2020.
Dengan terbitnya SKB 4 Menteri itu, otomatis tak harus menunggu zona kuning atau zona hijau untuk membuka sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Namun kembali pada kesiapan Pemerintah daerah, termasuk dari kesiapan fasilitas yang tersedia di sekolah. Hal itu juga dipengaruhi dengan temuan kasus di desa/kelurahan tempat sekolah itu berada.
“Kalau sekolah dibuka, kantin tidak ada sehingga tidak ada istirahat. Pertemuan tatap muka paling lama itu 2 jam. Setelah itu sudah selesai, pergantian shift. Jarak antara shift pertama dengan shift kedua itu juga sekitar 2 sampai 3 jam. Agar tidak terjadi kerumunan orang tua saat antar jemput,” tegas Astika.
Sementara itu, Sekretaris Satgas Penanganan COVID-19 Buleleng Gede Suyasa mengaku siap untuk mengikuti regulasi terbaru dari Pemerintah pusat.
Menurutnya, SKB empat Menteri memberikan kewenangan penuh pada pemerintah daerah untuk menggelar pertemuan tatap muka atau tidak.
Satgas Penanganan COVID-19 Buleleng dan juga Disdikpora Buleleng masih akan melakukan analisa berdasarkan hasil evaluasi kasus pada setiap desa di Buleleng.
Selain itu, persetujuan dari orang tua siswa juga nantinya akan menjadi bahan pertimbangan Pemerintah dalam mengambil keputusan.
“Kalau persentase orang tua tidak setuju anaknya ke sekolah masih tinggi tentu akan menjadi pertimbangan. Karena perlakuan anak yang masuk tatap muka dan yang daring berbeda, polanya harus disiapkan oleh masing-masing sekolah,” ujarnya.(NOV)

Penulis : Tim Liputan COVID

Editor : Putra Setiawan


TAGS : Satgascovid19 Ingatpesanibu Ingatpesanibupakaimasker Ingatpesanibujagajarak Ingatpesanibucucitangan Pakaimasker Jagajarak Jagajarakhindarikerumunan Cucitangan Cucitangandengansabun


Ingin produk atau jasa Anda muncul di setiap akhir berita?

Ingin produk atau jasa Anda muncul di setiap akhir berita? Hubungi DIVISI BISNIS Beritabali.com



News Lainnya :


Berita Lainnya

Trending News

Berita Bali TV