News

Lava Letusan Gunung dan Laut Saat Bertemu

Jumat, 24 September 2021 | 12:20 WITA
Lava Letusan Gunung dan Laut Saat Bertemu

beritabali.com/ist/suara.com/Lava Letusan Gunung dan Laut Saat Bertemu

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DUNIA.
Sungai-sungai merah dari bebatuan cair membentuk delta sebelum terjun ke air. Gumpalan gas naik ketika batu-batu terlempar sampai sejauh 250m dari titik tumbukan.
Ketika lava mengalir ke air laut, itu bisa menjadi tontonan yang memukau. Tapi fenomena ini juga berpotensi mematikan - gasnya bisa menjadi racun, airnya mendidih dan batu-batu yang beterbangan sangat besar.
Gas berbahaya
Lava yang memasuki lautan dapat menciptakan serangkaian bahaya khusus yang diketahui telah melukai atau membunuh orang-orang yang tak menaruh curiga di dekatnya, ujar US Geological Survey (USGS).
Pertemuan magma panas (batuan cair) dan air dingin menghasilkan kabut berbahaya yang disebut "laze" - yang jauh lebih berbahaya ketimbanng kedengarannya.
"Ketika magma bertemu laut, itu menghasilkan kolom-kolom uap, lantaran air garam menguap dalam skala besar.
"Ini karena perbedaan suhu yang besar: lava memiliki suhu lebih dari 900C, sementara air sekitar 23C," kata José Mangas, profesor geologi di Universitas Las Palmas de Gran Canaria di Kepulauan Canary, di mana gunung berapi Cumbre Vieja saat ini tengah meletus.
"Karena air mengandung klorida, sulfat, karbonat, fluorida dan yodium, antara lain, gas beracun juga menjadi mudah menguap dan naik," kata Mangas.
Gas-gas tersebut dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan saluran pernafasan. Mangas memberikan contoh wilayah laut yang terletak di dekat gunung berapi Hawaii, di mana pengunjung yang tidak menaruh curiga, meninggal setelah menghirup gas beracun. Gas-gas ini juga meninggalkan bau busuk di daerah terdekat - yang akhirnya hilang, untungnya.
Batu-batu beterbangan dan ledakan bertubi-tubi
Serangkaian bahaya lainnya disebabkan oleh penumpukan lava di sepanjang lereng laut, menciptakan delta yang tidak stabil. Saat lava didinginkan dengan cepat melalui kontak dengan air, delta pecah dan runtuh, kadang-kadang dalam ledakan, melemparkan fragmen lava dan batu ke darat atau laut. Para ilmuwan tidak dapat memprediksi waktu atau ukuran keruntuhan delta.
USGS mengatakan orang-orang harus tinggal setidaknya 300 meter dari tempat lava bertemu lautan, bahkan jika mereka berada di atas kapal. Ini adalah tentang seberapa jauh capaian bebatuan dan puing-puing itu terlempar sebelumnya.
Héctor Lamolda Ordóñez, dari National Geographic Institute dan juga seorang profesor di Universidad Complutense de Madrid, mengatakan gas beracun yang terperangkap di dalam bebatuan juga dapat dilepaskan selama keruntuhan delta.
Halaman :

TAGS : Berita Bali Berita Bahasa Bali Berita Berbahasa Bali Berita Bali Terkini Berita Bali Hari Ini Beritabali Informasi Bali


Ingin produk atau jasa Anda muncul di setiap akhir berita?

Ingin produk atau jasa Anda muncul di setiap akhir berita? Hubungi DIVISI BISNIS Beritabali.com



News Lainnya :


Berita Lainnya

Trending News

Berita Bali TV